KIMIA MEDISINAL SISWANDONO PDF

Hubungan struktur, sifat fisika kimia dengan proses metabolisme Proses metabolisme dapat dipengaruhi aktivitas biologis, masa kerja, dan toksisitas obat, sehingga pengetahuan tentang metabolisme obat dan senyawa organik asing lain xenobiotika sangat penting dalam dunia kimia medisinal. Secara umum, tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat menjadi metabolit tidak aktif dan tidak toksik bioinaktifasi atau detoksifikasi , mudah larut dalam air dan kemudian diekresikan dari tubuh. Hasil metabolit beberapa obat bersifat lebih toksik dibanding dengan senyawa induk biotoksifikasi tapi ada pula hasil metabolit obat yang mempunyai efek farmakologis berbeda dengan senyawa induk Siswandono, Hati adalah organ tubuh yang merupakan tempat utama metabolisme obat karena mengandung lebih banyak enzim-enzim metabolisme dibanding organ yang lain.

Author:Kazirr Vudora
Country:Saint Lucia
Language:English (Spanish)
Genre:Music
Published (Last):1 January 2014
Pages:367
PDF File Size:17.9 Mb
ePub File Size:19.12 Mb
ISBN:832-9-34840-198-1
Downloads:16656
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kilmaran



Hubungan struktur, sifat fisika kimia dengan proses metabolisme Proses metabolisme dapat dipengaruhi aktivitas biologis, masa kerja, dan toksisitas obat, sehingga pengetahuan tentang metabolisme obat dan senyawa organik asing lain xenobiotika sangat penting dalam dunia kimia medisinal.

Secara umum, tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat menjadi metabolit tidak aktif dan tidak toksik bioinaktifasi atau detoksifikasi , mudah larut dalam air dan kemudian diekresikan dari tubuh.

Hasil metabolit beberapa obat bersifat lebih toksik dibanding dengan senyawa induk biotoksifikasi tapi ada pula hasil metabolit obat yang mempunyai efek farmakologis berbeda dengan senyawa induk Siswandono, Hati adalah organ tubuh yang merupakan tempat utama metabolisme obat karena mengandung lebih banyak enzim-enzim metabolisme dibanding organ yang lain.

Setelah pemberian oral, obat diserap oleh saluran cerna, masuk peredaran darah dan kemudian masuk kedalam hati melalui efek lintas pertama. Aliran darah yang membawa obat atau senyawa organik asing melalui sel-sel hati secara perlahan-lahan termetabolisis menjadi senyawa yang mudah larut dalam air kemudian diekresikan melalui urin.

Contoh obat yang yang dimetabolisis di dalam hati adalah isoproterenol, lidokain, meperidin, propoksifen, propanolol dan salisilamid. Hati menghsilkan cairan empedu yang membantu pencernaan lemak dan sebagai media untuk ekskresi metabolit beberapa obat melalui tinja. Selain hati tenyata usus juga mempunyai peranan penting dalam proses metabolisme. Adanya flora normaldi usus halus dan memetabolisme obat dengan cara kerja sama dengan enzim-enzim mikrosom hati.

Sejumlah konjugat glukorina di ketahui dikeluarkan oleh empedu ke usus. Di usus konjugat tersebut terhirolisis olah enzim glukurinodase menghasilkan obat bebas yang bersifat lipofil. Obat bebas ini diserap secar difusi pasif melalui dinding usus, masuk peredaran darah dan masuk kembali ke hati. Di hati terjadi konjugasi kembali menghasilkan konjugat yang hidrofil, kemudian dikeluarkan kembali melalui empedu.

Di usus konjugat terhidrolisis lagi, demikian seterusnya sehingga merupakan suatu siklus. Proses ini dinamakan siklus entherohepatik. Konjugat obat yang tidak mengalami hidrolisis langsung diekresikan melalui tinja Siswandono, Reksi metabolisme obat dan senyawa organik asing ada dia tahap yaitu: 1. Reaksi fasa I atau reaksi fungsionalisasi 2. Reaksi fasa II atau reaksi konjugasi Yang termasuk reaksi fasa I adalah reaksi-reaksi oksidasi, reduksi dan hidrolisis.

Hal ini dapat dicapai dengan: a. Secara langsung memasukkan gugus fungsional, contoh: hidroksilasi senyawa aromatik dan alifatik b. Memodifikasi gugus-gugus fungsional yang ada dalam struktur molekul. Contohnya: 1. Reduksi gugus keton atau aldehid menjadi alkohol 2. Oksidasi alkohol menjadi asam karboksilat 3.

Reduksi senyawa azo dan nitro menjadi gugus NH2 5. Meskipun reaksi fasa I kemungkinan tidak menghasilkan senyawa yang cukup hidrofil, tetapi secara dapat meghasilkan suatu gugus fungsional yang mudah terkonjugasi atau mengalami reaksi fasa II.

Yang termasuk reaksi fasa II adalah reaksi konjugasi, metilasi, dan asetilasi. Tujuannya adalah mengikat gugus fungsional hasil metabolit reaksi fasa I dengan senyawa endogen yang mudah terionisasi dan bersifat polar, seperti asam glukoronat, sulfat, glisisn, dan glugtamin menghasilkan konjugat yang mudah larut dalam air.

Hasil konjugasi yang terbentuk konjugat kehilangan aktifitas dan toksisitas, dan kemudian diekskresikan melalui urine. Reaksi metilasi dan asetilasi bertujuan membuat senyawa menjadi tidak aktif Siswandono, Tiopental yang berada plasma darah dengan cepat terdistribusi dan disimpan dalam depo lemak.

Makin lama makin banyak sehingga kadar obat dalam plasma menurun secara drastis. Untuk mencapai kesetimbangan, tiopental yang ada dalam jaringan otak akan masuk kembali dalam plasma darah sehingga kadar anestesi tidak tercapai lagi, dan efek anestesi segera berakhir masa kerja obat singkat. Kadarnya dalam jaringan adalah x lebih besar daripada kadar dalam plasma.

Obat-obat yang mengalami jalur metabolisme dengan reaksi fase I yang meliputi N- hidroksilasi, desulfurasi seperti tiopental, pembukaan cincin asam barbiturat dan N-dealkilasi akan diekresikan dalam urine dalam benrtuk keadaan utuh. Kloramfenikol termasuk dalam obat yang mengalami metabolisme fase I reaksi fungsionalisasi.

Pada reaksi ini, kloramfenikol termasuk dalam reaksi oksidasi dimana terjadi penambahan gugus OH. Metabolisme fase I mengubah obat yang bersifat lipofil menjadi obat yang bersifat hidrofil dengan menambahkan produk polar.

Sedangkan metabolisme fase II mengubah obat yang bersifat hidrofil menjadi obat yang bersifat sangat hidrofil, akibatnya obat akan dikeluarkan melalui ginjal dalam bentuk urin Siswandono dan Bambang, Adapun reaksi dari kloramfenikol, yaitu : Kloramfenikol termasuk ke dalam obat yang mengalami bioaktivasi pada metabolisme fase I dan mengalami bioinaktivasi pada metabolisme fase II.

Adapun penjelasannya, yaitu : a. Bioaktivasi Kloramfenikol mengalami oksidasi dengan penambahan gugus OH menjadi turunan oksamil klorida yang aktif sebagai antibiotik. Kloramfenikol yang bersifat lipofil ini mengalami perubahan menjadi obat yang bersifat hidrofil karena adanya penambahan gugus polar, yaitu gugus OH.

Bentuk aktif kloramfenikol diekskresi terutama melalui filtrat glomerulus Tim Penyusun, Bioinaktivasi Kloramfenikol yang telah bersifat hidrofil turunan oksamil klorida kembali mengalami konjugasi metabolisme fase II dengan asam glukuronat oleh enzim glukuronit transferase menjadi obat yang sangat hidrofil turunan asam oksamat. Hubungan struktur, sifat fisika kimia dengan proses ekskresi. Obat yang diekskresi secara aktif tidak terpengaruh oleh pengikatan, misalnya benzilpenisilin PP k.

Ekskresi obat melalui ginjal melalui tiga tahap yaitu, penyaringan glomerulus, absorpsi kembali secara pasif pada tubulus ginjal dan sekresi aktif pada tubulus ginjal. Selama filtrat ini dipekatkan dalam tubuli zat-zat lipofil berdifusi kembali secara pasif pula melalui membran sel-nya kedalam darah dan demikian menghindari ekskresi.

Zat-zat hidrofil hampir tidak didifusi kembali dan langsung dikeluarkan lewat urine. Ekskresi dapat diperlancar dengan memperkuat disosiasi obat yang kebanyakan bersifat asam atau basa lemah dengan derajat ionisasi agak ringan Tjay, Contohnya : Indometacin dengan Litium, dimana pada aliran darah keginjal diatur oleh prostaglandin PG.

Indometcin menghambat sintesis PG sehingga menyebabkan fungsi ginjal menurun dan kadar litium menjadi meningkat. Obat yang bersifat polar, sukar larut dalam lemak, tidak diadsorpsi kembali oleh mebran tubulus. Adsorpsi kembali pada tubular ini sanagat tergantung pada pH urin. Sebagian besar akan terdapat dalam bentuk tidak terdisosiasi, mudah larut dalam lemak, sehingga mudah diadsorpsi kembali oleh tubular. Sekresi pengangkutan aktif pada tubulus ginjal Obat dapat bergerak dari plasma darah ke urinr melalui tubulus ginjal dengan mekanisme pengangkutan aktif.

Sebagai contoh, kombinasi obat antara probenesid dengan penisilin meningkatkan masa kerja penisilin karena probenesid dapat menghambat sekresi pengangkutan aktif penisilin secara kompetitif sehingga ekskesi penisili menurun, kadar penisilin dalam darah tetap tinggi dan menunjukkan aktifitas lebih lanjut. Obat tersebut biasanya dalam bentuk terkonjugasi dengan asam glukoronat, asam sulfat atau glisin. Diusus bentuk konjugat tersebut secara langsung diekresikan melalui tinja ataupun mengalami proses hidrolisis oleh enzim atau bakteri usus menjadi senyawa yang besifat nonpolar, sehingga di absorpsi kembali ke plasma darah, kembali ke hati dan dimetabolisme dan di keluarkan kembali melalui empedu menuju ke usus, demikian seterusnya hingga dinamakan siklus entherohepatik.

Dimana siklus ini mempunyai masa kerja obat menjadi lebih panjang. Contohnya adalah ampicilin diekresi kedalam empedu, dan dimanfaatkan dengan memberika ampicillin untuk infeksi dari saluran empedu. Beberapa obat dikethui mengalami siklus ini adalah dioksin, rifamfisin, stilboestrol, glutethimide, klorampenikol, indometacin dan morfin Zaman, Contoh mekanismenya : antara probenesid dengan penisillin. Dimana probenesid adalah obat asam urat yang merebut medium transport dari penisilin, sehingga menyebabkan ekskresi penisliin terhambat.

Penisilin tertahan lama dalam ginjal. Sehingga menyebabkan efek penisilin lebih panjang. Kimia Medisinal Edisi I. Airlangga university Press. Tim Penyusun. Farmakologi dan Terapi Edisi V. Departemen Farmakologi dan Terapeutik. Universitas Indonesia. Obat-obat penting khasiat, penggunaan, dan efek-efek sampingnya. Elex Media Komputindo. Zaman, Nanizar. Ars Prescribendi Resep yang Rasional Edisi ke Airlangga University Press.

Diposting oleh.

SAE J1231 PDF

Kimia Medisinal I

Untuk berinteraksi dengan reseptor, molekul obat harus mencapai sisi reseptor dan sesuai dengan permukaan reseptor. Pada interaksi obat-reseptor ada dua nilai yang sangat penting yang distribusi muatan elektronik dalam obat dan reseptor, serta bentuk konformasi obat dan reseptor. Istilah isosterisme telah digunakan secara luas untuk menggambarkan seleksi dari bagian struktur yang karena kerekteristik sterik, elektronik dan sifat kelarutannya, memungkinkan untuk saling dipergantikan pada modifikasi struktur molekul obat. Arti isosteris secara umum adalah kelompok atom-atom dalam molekul, yang mempunyai sifat kimia atau fisika mirip, karena mempunyai persamaan ukuran, keelektronegatifan atau stereokimia. Contoh pasangan isosterik yang mempunyai sifat sterik dan konfigurasi elektronik sama adalah : a.

ANATOMIA HUMANA FERNANDO QUIROZ GUTIERREZ PDF

Kimia Medisinal II

Hasil metabolit beberapa obat bersifat lebih toksik disbanding dengan senyawa induk biotoksifikasi , dan ada pula hasil metabolit obat yang mempunyai efek farmakologis bebrbeda dengan senyawa induk. Pengertian umum metabolisme obat adalah mengubah senyawa yang relative non polar, menjadi senyawa yang lebih polar sehingga mudah di keluarkan dari tubuh. Jumlah metabolit ditentukan oleh kadar dan aktivitas enzim yang berperan pada proses metabolism. Fakor-faktor yang mempengaruhi metabolism obat antara lain adalah factor genetic atau keturunan, perbedaan spesies dan galur, perbedaan jenis kelamin, perbedaan umum, penghambatan enzim metabolism, induksi enzim metabolisme dan factor-faktor lain. Hati adalah organ tubuh yang merupakan tempat utama metabolisme obat oleh karena mengandung lebih banyak enzim-enzimmetabolisme di banding organ lain.

CARL HONORE ELOGIO DE LA LENTITUD PDF

Kimia Medisinal

.

Related Articles