BURHAN NURGIYANTORO TEORI PENGKAJIAN FIKSI PDF

Untuk melakukan pengkajian terhadap unsur-unsur pembentuk karya sastra, khususnya fiksi, pada umumnya kegiatan itu disertai oleh kerja analisis. Analisis karya fiksi, menyaran pada pengertian mengurai karya itu atas unsur-unsur pembentuknya tersebut yaitu yang berupa unsur-unsur intrinsiknya. Tujuan utama kerja analisis kesastraan, fiksi, puisi ataupun yang lain adalah untuk dapat memahami secara lebih baik karya sastra yang bersangkutan, disamping untuk membantu menjelaskan pembaca yang kurang dapat memahami karya itu. Kerja heuristik merupakan pembacaan karya sastra pada system semiotic tingkat pertama yang berupa pemahaman makna sebagaimana yang dikonvensikan oleh bahasa yang bersangkutan.

Author:Shatilar Daitilar
Country:Lesotho
Language:English (Spanish)
Genre:Career
Published (Last):14 November 2005
Pages:436
PDF File Size:10.15 Mb
ePub File Size:7.64 Mb
ISBN:411-6-38933-995-8
Downloads:41859
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Vikinos



Untuk mempertegas keberadaan genre prosa, ia sering dipertentangkan dengan genre yang lain, misalnya dengan puisi, walau pertentangan itu sendiri hanya bersifat teoretis. Atau paling tidak, orang berusaha mencari perbedaan antara kebudayaan. Istilah prosa sebenarnya dapat menyeran pada pengertian yang lebih luas. Ia dapat mencakup berbagai karya tulis yang ditulis dalam bentuk prosa, bukan dalam bentuk puisi drama, tiap baris dimulai dari margin kiri penuh sampai ke margin kanan.

Prosa dalam pengertian ini tidak hanya terbatas pada tulisan yang digolongkan sebagai karya sastra, melainkan juga berbagai karya nonfiksi termasuk penulisan berita dalam surat kabar.

Dewasa ini tampaknya penyebutan karya untuk karya fiksi lebih ditunjukan terhadap karya yang berbentuk prosa naratif atau teks naratif. Novel dan Cerita Pendek Novel dan cerita pandak merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Bahkan, dalam perkembangannya yang kemudian, novel dianggap bersinonim dengan fiksi.

Dengan demukian, pengertian fiksi seperti dikemukakan di atas, juga berlaku untuk novel. Roman dan Novel Akhirnya perlu juga dikemukakan bahwa dalam kesastraan Indonesia dikenal juga istilah roman. Istilah ini juga banyak dijumpai dalam berbagai kesastraan di Eropa.

Novel Serius, Novel Popular, dan Novel Dalam dunia kesastraan sering ada usaha untuk mencoba bedakan antara novel serius dan novel popular. Dibandingkan dengan pembedaan novel dengan cerpen, atau novel dengan roman di atas, usaha itu sungguh lebih tidak mudah dilakukannya, dan lebih dari itu, bersifat riskan. Pada kenyataannya sungguh tidak mudah untuk menggolongkan sebuah novel ke dalam ketegori seris atau popular.

Dalam pembedaan itu, di samping dipengaruhi kesan subjektif, kesan dari luar juga menentukan. Misalnya, karena sebuah novel diterbitkan oleh penerbit yang telah dikenal sebagai sebagai penerbit buku-buku kesastraan, belum membaca ininya pun, mungkin sekali, orang telah menilai sastra yang tinggi.

Untuk kasus di Indonesia misalnya oleh penerbit Pustaka Jaya. Kata merupakan sarana terwujudnya bangunan cerita. Kata merupakan sarana pengucapan sastra. Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan yang bersifat artistik.

Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-bagiab, unsure-unsur, yang saling berkaitan satu dengan yang lain secara erat dan saling menggantungkan. Jika novel dikatakansebagai sebuah totalitas itu, unsure kata dan bahasa merupakan salah satu bagian totalitas itu, salah satu unsur pembangun cerita itu, salah satu subsistem organism itu. Kata inilah yang menyebabkan novel, juga sastra pada umumnya, menjadi berwujud.

Intrinsik dan Ekstrinsik Unsur-unsur pembangun sebuah novel—yang kemudian secara bersama membentuk sebuah totalitas itu—di samping unsure formal bahasa, masih banyak lagi macamnya. Namun, secara garis besar berbagai macam unsure tersebut secara tredisional dapat dikelompokkan menjadi dua bagian walau pembagian itu tidak benar-benar pilah. Pembagian unsure yang dimaksud adalah unsure intrinsic dan ekstrinsik. Fakta, Tema, Sarana Cerita Stanton membedakan unsure pembangun sebuah novel ke dalam tiga bagian: fakta, tema dan sarana pengucapan sastra.

Fakta facts dalam sebuah cerita meliputi karakter tokoh cerita , plot, latar. Ketiganya merupakan unsure fiksi yang secara factual dapat dibayangkan peristiwanya, eksistensinya, dalam sebuah novel. Ketiganya dapat pula disebut sebagai struktur factual dan tingkatan factual sebuah cerita.

Ketiga unsur tersebut harus dipandang satu kesatuan dalam rangkaian keseluruhan cerita, bukan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah satu dengan yang lain. Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Cerita dan Wancana Selain pembedaan unsur fiksi seperti di atas, menurut pandangan strukturalisme, unsure fiksi dapat dibedakan ke dalam unsure cerita dan wacana.

Pembedaan tersebut ada kemiripannya dengan pembedakan tradisional yang berupa unsure bentuk dan isi di atas. Pembedaan teks naratif ke dalam dua golongan itu juga dilakukan oleh kaum Formalism Rusia, yaitu yang mendekatkannya ke dalam unsur fibula dan sujet. Berdasarkan pandangan bahwa teks naratif merupakan sebuah fakta semiotik, semiotic adalah ilmu tentang tanda. Bahwa secara garis besar teks neratif dibedakan ke dalam unsure cerita dari wacana, hal itu mirip dengan pembedaan unsur bentuk dan isi di atas.

Adanya berbagai pandangan tentang unsur-unsur fiksi seperti dikemukakan, bagaimanapun, lebih mempertegas bahwa teks naratif itu merupakan sebuah struktur yang kompleks. Dewasa ini ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi tampaknya lebih banyak disampaikan lewat media tulisan.

Bahkan, sesuatu yang yang terkategori sebagai hiburan pun banyak yang diekspresikan lewat tulisan. Maka,syarat untuk memperoleh untuk memahami, dan menikmati itu semua mesti kita rajin membaca. Sebagian besar pengetahuan dan pemahaman kita justru mesti diperoleh lewat penemuan sendiri bacaan. Dari bermodalkan daya pikir sendiri, kita menggarap dan memahami segala sesuatu yang di kandung buku bacaan dengan cara tertentu sehingga dari tidak menggerti menjadi mengerti, dari tidak paham menjadi paham.

Namun, tidak sembarang bacaan yang dapat meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman. Cerita yang menggambarkan suatu kehidupan yang sengaja dikreasikan dengan mengandalkan kekuatan imajinasi.

Membaca cerita fiksi sebaiknya dilakukan secara cepat, bahkan idealya dapat diselesaikan pada satu waktu. Untuk membaca sebuah novel yang panjang, hal itu jelas tidak mungkin. Namun, ia dapat direduksi dan didapatkan. Aturan Membaca Teks Fiksi Teks fiksi tidak sama dengan teks nonfiksi, maka membaca kedua jenis tersebut memerlukan penyikapan yang tidak sama. Teks nonfiksi jelas mengandalkan keakuratan fakta pengetahuan, sedang teks fiksi fakta imajinatif.

Pertama, jika seseorang membaca teks cerita fiksi, sebaiknya menghindari hal negative yang paling penting: jangan berusaha menolak efek yang ditimbulkan oleh teks literature imajinatif dalam diri Anda. Artinya, kita harus menerima apa adanya efek yang muncul dalam diri ketika atau setelah membaca teks cerita fiksi. Kedua, negasi ini merpakan kelanjutan keadaan di atas, yaitu : jangan mencari istilah, proposisi, dan argument dalam literatr imjinatif. Hal itu disebabkan, menurutnya, semuaitu merupakan perangkat logika, padahal dalam teks fiksi pernyataan menjadi salah satu medium pengaburan.

Ketiga, aturan negasi berikutnya dan terakhirnya, yaitu: jangan mengritik dengan kebenaran dan konsistensi yang berlaku dalam komunikasi ilmiah. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, kebenaran cerita teks fiksi tidak sama dengan kebenaran faktual atau teks-teks ilmiah nonfiksi. Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Dikenal adanya istilah heuristik dan hermeneutik. Kedua istilah itu, yang secara lengkap disebut sebagai pembaca heuristik dan pembacaan hermeneutik, biasanya dikaitan dengan pendekatan semiotic.

Hubungan antara heuristik dan hemeneutik dapat dipandang sebagai hubungan yang bersifat gradisi sebab kegiatan pembacaan dan atau kerja hermeneutik. Kerja hermeneutic merupakan pembacaan karya sastra pada system semiotic tingkat pertama.

Ia berupa pemahaman makna sebagaimana yang dikonvensikan oleh bahasa. Orang sering menyebtnya sebagai makna yang ditunjuk oleh kamus. Bekal yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang system bahasa itu, kompetensi terhadap kode bahasa. Hakikat Kajian Fiksi Istilah kajian atau pengkajian yang dipergunakan dalam penulisan ini menunjuk pada pengertian penelaahan.

Istilah itu merupakan pembendaan dari kerja mengkaji, menelaah, atau meneliti. Novel dibangun dari sebuah unsur dan setiap unsur saling berhubungan, saling menentukan, dan saling mempengaruhi.

Kegiatan analisis kesastraan yang mencoba memisahkan bagian-bagian dari keseluruhannya tersebut, tidak jarang dianggap sebagai kerja yang sia-sia. Untuk memahami sebuah novel, sering tidak semudah seperti yang diduga orang. Fiksi merupakan sebuah struktur organisme yang kompleks, unik, dan kadang-kadang mempergunakan cara-cara yang tidak lazim. Tujuan utama kerja analisis kesastraan, fiksi, puisi, ataupun yang lain, adalah untuk dapat memahami secara lebih baik karya sastra yang bersangkutan.

Manfaat dari kerja analisis adalah jika kita membaca ulang teks-teks fiksi yang dianalisis itu, baik teks-teks itu dianalisis sendiri maupun oleh orang lain. Pendekatan Kajian Teks Kesastraan Telaah teks-teks kesastraan lazimnya mempergunakan pendekataan atau berdasarkan teori-teori tertentu. Mengategorikan studi kesastraan menjadi empat pendekatan yaitu pendekatan mimetik, ekspresif, objektif, dan pragmatik. Pada perkembangan selanjutnya muncul pendekatan baru yaitu: 1.

Pendekatan strukturalisme dan formalisme Rusia a. Strukturalisme Sebuah teks satra, fiksi atau puisi, menurut pandangan kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara keherensi oleh berbagai unsur pembangun -nya.

Setiap teks kesastraan memiliki sebuah struktur yang unik yang khas yang menandai kehadirannya. Strukturalisme dapat dipandang sebagai suatu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubuungan antar unsur pembangun karya yang bersangkutan.

Strukturalisme bukan merupakan pandangan tunggal dan bahkan dikenal juga diberbagai disiplin keilmuan yang lain. Strukturalisme memberikan perhatian terhadap kajian unsur-unsur teeks kesastraan.

Analisis struktural tidak cukup dilakukan hanya sekadar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, misalnya peristiwa, plot, tokoh, latar, atau yang lain. Strukturalisme tampak begitu mementingkan objek dan meniadakan pengarang, maka kadang dipandang sebagai antihumanis.

Formalisme Rusia Formalisme Rusia sengaja digabungkan dengan strukturalisme karena pandangan ini merupakan awal kebangkitan strukturalisme selain juga hanya masalah penempatan. Dalam kajian teks kesastraan Kaum Formalisme Rusia lebih mengutamakan aspek bentuk dari pada isi. Teks sastra yang bagus adalah yang membuat kita pembaca terusik, terhentak sejenak, karena dibawa untuk melihat dunia dengan cara yang tidak lazim, keluar dari rutinitas.

Kaum Formalis Rusia juga fokus pada teknik penceritaan. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik dapat juga dikaitkan dengan kajian dari aspek waktu. Pendekatan semiotik Dalam pandangan semiotik yang berasal dari teori saussure bahasa merupakan sebuah sistem tanda. Semioti model Saussure bersifat semiotik struktural, model peirce bersifat semiotik analitik. Semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.

Perkembangan semiotik dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu semiotik komunikasi dan semiotik signifikasi. Teori semiotik Peirce Teori Peirce mengatakan bahwa sesuatu itu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain b.

Teori Semiotik saussure Teori Saussure sebenarnya berkaitan dengan pengembangan teori linguistik secara umum, maka istilah-istilah yang dipakai untuk bidang kajian semiotik meminjam dari istilah dan model linguistik. Pendekatan intertekstual Kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks, yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu. Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya tulis, ia tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Teks-teks kesastraan yang dijadikan dasar penulisan bagi teks yang kemudian disebut dengan hipogram.

Pendekatan dekonstruksi Model pendekatan dekonstruksi ini dalam bidang kesastraan khususnya fiksi, dewasa ini terlihat banyak diminati orang sebagai salah satu model atau alternatif dalam kegiatan pengkajian sastra. Dekonstruksi menolak pandangan bahwa bahasa telah memiliki makna yang pasti, tertentu, dan konstan, sebagaimana halnya pandangan srukturalisme klasik. Pendekatan psikoanalisis Pendekatan psikoanalisis berangkat dari konsep psikologi, yaitu psikoanalisis yang diteorikan oleh Sigmud Freud.

ENTRAINEMENT PREPARATOIRE ET COMPLEMENTAIRE AUX ARTS MARTIAUX PDF

Burhan Nurgiyantoro ~ Teori Pengkajian Fiksi (2010)

Fiksi : Pengertian dan Hakikat Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi fiction , teks naratif naratif text atau wacana naratif naratif discource dalam pendekatan strukural dan semiotik. Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan disingkat: cerkan atau cerita khayalan. Hal ini disebabkan fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah Abrams, Istilah fiksi sering digunakan dalam pertentangannya dengan rrealitas —sesuatu yang benar ada dan terjadi di dunia nyata sehingga kebenaranya pun dapat dibuktikan dengan data empiris.

CARL FLESCH SCALE SYSTEM VIOLIN PDF

Teori Pengkajian Sastra

Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan disingkat: cerkan atau cerita khayalan. Hal ini disebabkan fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah Abrams, Istilah fiksi sering digunakan dalam pertentangannya dengan realitas —sesuatu yang benar ada dan terjadi di dunia nyata sehingga kebenaranya pun dapat dibuktikan dengan data empiris. Tokoh, peristiwa, dan tempat yang disebut-sebut dalam fiksi adalah tokoh, peristiwa, dan tempat yang bersifat imajinatif, sedang pada karya nonfiksi bersifat faktual. Fiksi menurut Altenbernd dan lewis 14 , dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia. Fiksi merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tangung jawab dari segi kreatifitas sebagai karya seni. Membaca sebuah karya fiksi berarti menikmati cerita, menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin.

ZARABOZO 40 HADITH PDF

Burhan Nurgiyantoro

.

Related Articles